Table of Contents
ToggleCoaching dalam Kepemimpinan
Coaching bukan suatu kata yang asing untuk berbagai perusahaan dan organisasi, walaupun ternyata, masih banyak yang belum menerapkan praktiknya dengan baik, benar, atau secara optimal dalam organisasinya.
Aplikasi coaching dalam memimpin tim adalah cara memimpin dengan bertanya, mendengarkan, dan mengembalikan keputusan kepada anggota tim, bukan dengan memberi perintah atau solusi langsung setiap kali masalah muncul. Mitologi Inspira adalah konsultan team development dan learning experience di Jakarta yang melatih manajer memakai coaching sebagai teknik kepemimpinan lewat simulasi percakapan kerja nyata, bukan teori yang berhenti di kelas.
Coaching seringkali hanya dianggap dan digunakan sebagai proses transfer ilmu seperti mentoring, teaching, atau training. Padahal, bila dilakukan dengan tepat dan diaplikasikan oleh setiap manajer pada karyawannya, coaching adalah teknik leadership terbaik yang juga digunakan oleh pemimpin- pemimpin perusahaan kelas dunia!
Beberapa kesalahan dalam mengaplikasikan coaching sebagai teknik leadership, misalnya:
- Salah memahami konsep praktis coaching, life coaching, dan performance coaching.
- Salah kaprah dan salah memahami metode coaching dengan mentoring yang dianggap sama.
- Habit leadership dalam menggunakan metode autocratic dan dictatorial, yang dianggap dapat digunakan di tiap kondisi.
- Habit micromanagement yang membuat proses coaching yang autonomous menjadi tidak optimal.
Dengan perubahan gaya kerja era sekarang, dengan tingginya turnover, budaya ‘kutu loncat’, dan menurunnya motivasi pribadi dari setiap karyawan dan anggota organisasi, setiap manajer dituntut untuk memiliki berbagai tool leadership berbeda dalam setiap kondisi berbeda, dan mampu membangkitkan motivasi dalam diri setiap anggotanya.
Menerapkan coaching sebagai metode leadership, mungkin adalah jawaban dan solusi dari tantangan manajerial yang Anda cari!
Bagaimana Mengaplikasikan Coaching sebagai Teknik Leadership dalam Perusahaan
Untuk menggunakan teknik coaching untuk memimpin tim, kita menggunakan konsep dan teknik coaching yang proper, dan bagaimana melakukan proses coaching menurut standarisasi International Coach Federation (ICF).
Artinya, dengan menitikberatkan proses pada bertanya, mendengarkan, dan mengembalikan ‘kendali’ pada karyawan dan tim yang di- coaching, dan membuat mereka berkembang jauh sesuai dengan potensi mereka!
Beberapa benefit menggunakan coaching sebagai teknik kepemimpinan atau leadership, antara lain:
- Mendorong peran serta aktif dalam tim dan mendorong inisiatif.
- Memberikan rasa tanggung jawab pada tim dalam pelaksanaan tugas.
- Membangun rasa percaya diri dan keyakinan pada kompetensi pribadi.
- Mengembangkan bibit kepemimpinan dalam diri setiap individu.
- Memahami dan meningkatkan potensi setiap anggota tim secara unik.
- Membantu proses delegasi yang sukses.
Untuk mencapai tujuan itu, berikut adalah beberapa tips menggunakan coaching sebagai teknik leadership.
Mendengarkan Lebih Baik dengan Active Listening
Seorang pemimpin yang juga seorang coach, memperbanyak porsinya untuk mendengarkan.
Ketika kita terlalu banyak bicara, kita berhenti mendengarkan. Dan ketika seorang pemimpin berhenti mendengarkan, ia mengundang berbagai kesalahan dan inefisiensi dalam keputusan- keputusannya. Dengan mendengarkan, atau menyiapkan sesi- sesi mendengarkan lebih baik, ia akan mendapatkan input, masukan, dan pandangan langsung dari lapangan yang mungkin belum dia pahami atau ketahui sebelumnya.
Keputusan yang dibuat dengan informasi yang lebih akurat, dengan berbagai input yang lebih baik dari, misalnya tim lapangan, akan selalu lebih tajam dan efektif dalam menghadapi tantangan nyata daripada keputusan yang dibuat dari meraba- raba.
Active Listening adalah teknik mendengarkan dengan aktif, yang digunakan para coach untuk bisa mendengarkan dan memahami kondisi lebih baik lagi.
Dalam menggunakan active listening, seorang pemimpin yang juga seorang coach perlu ‘mendengarkan secara aktif’, bukan hanya menggunakan telinganya untuk mendengarkan kalimat verbal, tapi mendengarkan berbagai clue, tanda, bahasa tubuh, intonasi, reaksi emosi, yang memberikan informasi yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan, dan memahami timnya lebih baik lagi.

Menggunakan Powerful Questioning
Tool terkuat kedua seorang coach adalah ‘pertanyaan’. Pertanyaan- pertanyaan yang kuat dan bermanfaat, adalah ciri seorang pemimpin yang juga seorang coach dalam organisasi Anda.
Saat saya memberikan training Coaching, Mentoring, dan Counseling untuk para top manager dan direktur salah satu perusahaan plantation terbesar di Indonesia, konsep menggunakan pertanyaan dalam memimpin terasa aneh bagi mereka.
Beberapa bahkan sampai terbengong- bengong saat mendengarkan saya memberikan konsep tersebut.
Tapi setelah mencobanya dalam 3- 4 sesi, dan melihat sendiri kekuatan powerful questioning dalam memimpin, mereka ketagihan!
Ketika pernyataan dan perintah akan memberikan solusi secara langsung, dan membentuk anggota tim yang pasif, tidak memiliki inisiatif, tidak kritis, dan hanya membentuk budaya yes sir, pertanyaan yang baik dan kuat akan membuat anggota tim Anda berpikir aktif, membangun inisiatif, berpikir kritis, merasa dipercaya dan didengarkan, dan bisa menjadi lebih imajinatif dan solutif dalam aktivitasnya.
Dan dengan pertanyaan yang tepat, Anda akan membangun tanggung jawab dalam langkah mereka!
Walau tidak perlu digunakan setiap saat, sekali- sekali, Anda perlu lebih banyak memberikan pertanyaan daripada memberikan pernyataan.
Tidak Mengarahkan dan Memberikan Solusi Langsung
Seorang mentor memberikan ilmu dan saran langsung berdasarkan pengalamannya.
Seorang konsultan akan memberikan solusi dan jawaban langsung untuk timnya.
Seorang bos akan memberikan perintah langsung untuk bawahannya.
Seorang coach menghindari selalu memberikan saran atau perintah langsung dalam setiap keputusan dan aktivitas hariannya, tapi menggunakan kombinasi antara perintah, tujuan yang jelas, dan mengembalikan beberapa keputusan atau solusi ke tim yang melakukannya, dan mendelegasikan detail aksinya pada pelaksana.
Memimpin tim dengan menggunakan coaching artinya memperkuat sifat empowerment. Dan ini artinya mempercayakan, dan memancing anggota tim untuk mengeluarkan dan percaya pada keputusan dan inisiatif mereka, khususnya dalam beberapa hal yang tidak terlalu memiliki dampai kritis.
Ini akan membantu mereka mandiri, dan menghindari habit micromanagement dalam organisasi dan perusahaan Anda.
Membangun Pemimpin dalam Suasana Saling Percaya
Kepercayaan adalah satu hal yang terpenting dan merupakan dasar coaching, dan inti memimpin tim dengan coaching.
Tim yang saling percaya akan dapat bekerjasama dengan lebih baik daripada tim yang hanya mengikuti perintah sebagai ‘yes man’. Dengan menggunakan coaching, Anda sebagai pemimpin mengembalikan ‘kekuatan’ pada anggota- anggota tim Anda dengan bertanya, mendengarkan, dan membuat rencana bersama- sama, dan mempercayai mereka untuk mengeksekusinya dengan cara mereka sendiri.
Ketika Anda mendikte, Anda akan melahirkan pengikut.
Ketika Anda menggunakan coaching dan membiarkan mereka mengeluarkan opini dan keputusannya, Anda membangun pemimpin untuk masa depan!
Biasakanlah melakukan hal ini:
- Menanyakan pada mereka pendapat mereka untuk berbagai kasus.
- Menanyakan dan membahas rencana dan solusi nyata bersama mereka.
- Kembalikan keputusan akhir pada mereka.
- Berikan waktu dan percayakan langkah untuk mereka mencobanya dengan caranya sendiri.
- Lakukan sesi- sesi kontrol untuk menjaga kualitas kerjanya.
- Berikan pujian saat dibutuhkan.
Menyiapkan dan Merencanakan Sesi Coaching dan Mentoring
Dalam training kami, selain mengajarkan teori dan konsep, kami juga memberikan tips praktis dan berbagai simulasi nyata untuk para peserta untuk bisa menyiapkan sesi- sesi coaching dan mentoring bersama timnya dalam organisasinya.
Coaching dan mentoring adalah proses berkesinambungan dan proses sangat kuat yang sangat melibatkan langkah nyata dan aktivitas real dari setiap pihak yang terlibat, coach dan coachee, manajer, dan karyawan, pimpinan dan anggota tim.
Untuk memimpin menggunakan teknik coaching, Anda perlu menjadwalkan dan menyiapkan sesi rutin untuk pertemuan bersama, yang berguna bukan hanya sebagai alat pengembangan diri dan strategi, tapi juga sebagai fungsu kendali, kontrol, dan transfer informasi, disamping membantu mereka mengembangkan dirinya menjadi anggota tim dan pemimpin yang lebih baik lagi.
Dalam sesi inilah, Anda sebagai pemimpin bisa memastikan semuanya bergerak sesuai dengan harapan, melakukan set target, rencana, dan pencapaian, serta memahami analisis hasil yang Anda capai!
Contoh Percakapan: Satu Sesi Coaching Sepuluh Menit dengan Anggota Tim
Bagian tersulit dari coaching bukan memahami teorinya, melainkan menggantinya dengan kebiasaan bertanya di percakapan harian. Contoh berikut memperlihatkan satu percakapan sepuluh menit antara seorang manajer dan anggota timnya yang terlambat menyerahkan laporan. Tiga alat yang sudah dibahas di atas dipakai sekaligus: mendengarkan lebih dulu, bertanya dengan pertanyaan terbuka, dan menahan diri dari memberi solusi. Perhatikan bahwa pemimpin di percakapan ini hampir tidak pernah memberi jawaban.
- Pemimpin. “Laporan ini baru masuk kemarin, padahal tenggatnya Selasa. Saya ingin tahu apa yang terjadi, bukan mencari siapa yang salah.”
- Anggota tim. “Saya kira bagian saya bisa menyusul, karena masih menunggu data dari tim lain.”
- Pemimpin (menahan diri). Ia tidak langsung menanggapi. Dua detik jeda itu memberi ruang supaya anggota timnya menyelesaikan kalimatnya lebih dulu, bukan memotong dengan pembelaan.
- Pemimpin. “Data siapa yang ditunggu, dan sejak kapan?”
- Anggota tim. “Dari divisi gudang, sejak Senin. Saya sudah mengirim pesan dua kali, tetapi belum dibalas.”
- Pemimpin. “Kalau data itu baru masuk Jumat, apa yang akan Anda lakukan supaya laporan tetap bisa diserahkan Selasa?”
- Anggota tim. “Mungkin saya pakai angka sementara, lalu memperbaruinya setelah data lengkap.”
- Pemimpin. “Bagaimana kalau angka sementara itu ternyata salah dan dipakai untuk keputusan?”
- Anggota tim. “Saya bisa menandainya sebagai angka sementara, dan menyebut asumsinya di catatan.”
- Pemimpin. “Itu masuk akal. Apa yang Anda butuhkan dari saya supaya hal ini tidak terulang?”
- Anggota tim. “Saya perlu kejelasan siapa yang menagih data antardivisi, karena selama ini hanya saya yang mengejar.”
- Pemimpin. “Saya yang akan membicarakannya dengan kepala gudang pekan ini. Anda catat asumsinya, dan kita periksa lagi Jumat.”
Ada tiga hal yang membuat percakapan ini berbeda dari obrolan biasa. Pemimpin tidak sekali pun menyebut solusinya, karena solusinya justru datang dari anggota timnya sendiri. Pertanyaannya menuntun ke arah yang lebih jelas, bukan menuduh. Dan percakapan ditutup dengan dua hal yang terukur: satu tindakan dari pemimpin, satu tindakan dari anggota tim beserta kapan keduanya diperiksa lagi. Pola sepuluh menit inilah yang membuat coaching tidak berhenti sebagai teori, karena ia dijalankan di tengah pekerjaan, bukan di ruang kelas.
Jadi, apakah Anda telah menggunakan coaching dalam memimpin tim dan organisasi Anda?
Bila Anda ingin mulai menggunakan teknik dahsyat ini dalam memimpin tim Anda, Anda bisa mempelajari, mencoba sendiri, dan mendapatkan informasi lebih jauh tentang kompetensi langsung via chat WhatsApp di sini!
Jadilah leader dan coach untuk tim Anda!
Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Aplikasi Coaching
Apa yang dimaksud aplikasi coaching dalam memimpin tim?
Aplikasi coaching dalam memimpin tim adalah penggunaan percakapan coaching oleh manajer untuk membantu anggota timnya menemukan dan memutuskan langkahnya sendiri. Pemimpin tetap memegang arah dan standar kerja, sementara cara mencapainya lebih banyak digali lewat pertanyaan dan mendengarkan daripada lewat perintah.
Apa bedanya coaching dengan mentoring dan konsultan?
Mentor memberi ilmu dan saran dari pengalamannya, konsultan menyerahkan solusi dan jawaban, sedangkan coach menahan diri dari memberi solusi langsung dan mengembalikan keputusan pada orangnya. Dalam praktik, seorang pemimpin memakai ketiganya pada waktu yang berbeda: mengarahkan ketika risikonya tinggi, dan coaching ketika yang dibutuhkan adalah kemandirian tim.
Kapan pemimpin sebaiknya memakai coaching dan kapan cukup memberi arahan langsung?
Arahan langsung lebih tepat pada situasi mendesak, keputusan yang berdampak besar, atau ketika anggota tim belum punya pengalaman sama sekali. Coaching lebih tepat untuk pekerjaan rutin yang masih bisa diperbaiki, karena di situlah rasa tanggung jawab tumbuh. Kalau ragu, tanyakan lebih dulu apa yang sudah ia pikirkan sebelum Anda menyampaikan jawaban.
Berapa lama dan seberapa sering sesi coaching sebaiknya diadakan?
Sepuluh sampai tiga puluh menit sudah cukup, karena yang menentukan adalah pemilikannya, bukan durasinya. Irama yang paling gampang dipegang adalah sekali sepekan per orang, dengan satu sesi kontrol untuk memeriksa kesepakatan sebelumnya. Jadwalkan sebagai waktu rutin, karena coaching tidak berjalan kalau hanya menunggu ada masalah.
Bagaimana kalau anggota tim hanya diam dan tidak mau menjawab?
Diam biasanya bukan penolakan, melainkan belum terbiasa ditanya atau takut jawabannya salah. Mulai dari pertanyaan kecil yang tidak berisiko, beri jeda beberapa detik, dan tunjukkan bahwa jawaban jujur tidak akan dipakai untuk menghukum. Kalau tetap diam, pindahkan percakapan ke pertemuan yang lebih santai dan waktunya lebih longgar.
Apakah coaching bisa dipakai untuk anggota tim yang baru masuk?
Bisa, tetapi porsinya berbeda: anggota tim baru masih butuh arahan, contoh, dan pendampingan lebih banyak, baru coaching masuk bertahap ketika ia sudah memahami pekerjaannya. Coaching paling berguna untuk hal yang tetap sama sepanjang kariernya, misalnya cara berpikir, mengambil inisiatif, dan mengelola prioritas.
Di mana manajer di Jakarta bisa berlatih memakai coaching sebagai teknik kepemimpinan?
Mitologi Inspira adalah konsultan team development dan learning experience di Jakarta yang melatih manajer memakai coaching sebagai teknik kepemimpinan lewat simulasi percakapan nyata, umpan balik, dan penyusunan rencana sesi bersama tim. Latihannya menyentuh kompetensi inti coaching, termasuk mendengarkan, bertanya, dan menahan diri dari memberi solusi langsung.
Apa yang Sebaiknya Dipakai untuk Memulai Coaching di Tim Anda
Setelah alat dan contohnya terbaca, pertanyaan yang biasanya tersisa satu: mulai dari mana untuk tim Anda? Jawabannya bergantung pada gejala yang paling sering muncul, karena kebiasaan memimpin berubah lebih cepat kalau dilatih memakai percakapan kerja Anda sendiri, bukan contoh dari buku.
- Anda belum pernah memakai coaching dan ingin memahami dasarnya lebih dulu. Mulai dari pelatihan kepemimpinan yang membahas coaching sebagai salah satu keterampilan memimpin, lengkap dengan praktik, bukan hanya konsep dan istilah.
- Manajer di tim Anda sudah tahu teorinya, tetapi kebiasaannya belum berubah. Latihannya perlu memakai percakapan nyata mereka sendiri, jadi arahkan ke program pelatihan in-house supaya materinya disusun dari kasus tim Anda, bukan dari daftar topik umum.
- Masalahnya bukan teknik memimpin, melainkan kualitas percakapan antaranggota tim. Perkuat dasarnya lewat program pengembangan tim yang memetakan kebutuhan dari hasil diagnostik, bukan membeli topik lepas satu per satu.
- Yang paling sering bocor adalah kebiasaan pemimpin menutup diskusi dengan jawabannya sendiri. Bila gejalanya menyebar di beberapa tim sekaligus, mulailah dari enam area pelatihan karyawan untuk memilih jalur yang paling dekat dengan masalahnya.
Coaching bukan teknik yang dipasang sekali lalu selesai. Sinergi tim tidak dibentuk dari satu sesi, jadi yang paling menentukan adalah apakah percakapan sepuluh menit itu benar benar terjadi setiap pekan, bukan seberapa lengkap materinya sudah dibaca. Mitologi Inspira mendampingi perusahaan di Jakarta merancang latihan coaching yang berpijak pada percakapan timnya sendiri. Kalau Anda ingin membahas bagian mana dari cara memimpin tim Anda yang paling perlu diperkuat, hubungi kami lewat WhatsApp 0811 922 3601. Kalau kebutuhan dan jadwalnya sudah jelas, isi formulir kebutuhan supaya kami bisa menyiapkan rancangan program yang sesuai.
















