Dalam dunia bisnis dan manajemen, membentuk tim yang efektif seringkali merupakan salah satu kunci kesuksesan dalam mencapai tujuan perusahaan. Untuk membantu memahami dinamika pembentukan tim, ada namanya Tuckman Model (Forming, Storming, Norming, Performing).
Tuckman Model menjelaskan empat tahap yang dilalui setiap tim, yaitu Forming, Storming, Norming, dan Performing. Model yang dikembangkan Bruce Tuckman tahun 1965 ini membantu manajer, HR, dan L&D membaca fase tim Anda saat ini agar bisa memberi dukungan yang tepat, seperti yang biasa kami dampingi di Mitologi Inspira.
Model ini tidak hanya memberikan panduan tentang tahapan-tahapan dalam pembentukan tim, tetapi juga membantu manajer memahami peran dan tindakan yang diperlukan untuk mendukung tim mereka mencapai tingkat kinerja yang optimal.
Table of Contents
TogglePelajari Tuckman Model (Forming, Storming, Norming, Performing)
Membentuk tim yang solid dan efisien bukanlah tugas yang mudah. Dinamika tim ini pertama kalinya dikenalkan oleh Kurt Lewin. Ia merupakan seorang psikolog sosial di tahun 1939 silam.
Kemudian dinamika tim mengalami pengembangan. Salah satunya dengan adanya Bruce Tuckman pada tahun 1965. Bruce Tuckman mengembangkan model yang terkenal dengan nama “Forming, Storming, Norming, Performing“.
1. Forming (Pembentukan)
Tahap pertama dalam model Tuckman adalah “Forming” atau pembentukan. Pada tahap ini, anggota tim baru pertama kali bertemu, dan mereka biasanya penuh semangat dan optimisme. Karyawan ini mencoba memahami tujuan dan peran masing-masing dalam tim.
Di sini, manajer atau HR memiliki peran penting dalam menyediakan arah yang jelas, mengklarifikasi tujuan, dan mengatur harapan. Ada beberapa manfaat tahapan forming ini. Antara lain:
● Membangun Kepercayaan
Komunikasi yang terbuka dan pengenalan yang baik antar anggota tim dapat membantu dalam membangun kepercayaan satu sama lain.
● Pembagian Peran yang Jelas
Dengan menetapkan peran dan tanggung jawab secara jelas, anggota tim dapat mulai memahami kontribusi mereka dalam mencapai tujuan bersama.
Penting bagi manajer untuk memahami tahap Forming ini agar mereka dapat memberikan dukungan yang sesuai dan mengarahkan tim menuju kolaborasi yang lebih efektif.
2. Storming (Konflik)
Setelah tahap pembentukan, tim kemudian masuk ke tahap “Storming” atau konflik. Pada tahap ini, perbedaan pendapat dan konflik mulai muncul di antara anggota tim.
Ini adalah proses alami di mana individu mencoba untuk menetapkan peran dan memengaruhi keputusan. Manajer harus mampu mengelola konflik dengan bijaksana dan membantu tim menemukan cara untuk bekerja sama. Adapun hal yang bisa dilakukan manajer untuk ini antara lain:
● Fasilitasi Diskusi
Manajer perlu memfasilitasi diskusi terbuka di antara anggota tim untuk memecahkan konflik dan mencapai pemahaman bersama. Diskusi juga bisa dalam bentuk pelatihan karyawan.
● Peningkatan Kesadaran
Membantu anggota tim memahami perbedaan antara pendapat pribadi dan kepentingan tim secara keseluruhan. Kuncinya adalah communication.
3. Norming (Pembentukan Norma)
Tahap selanjutnya dalam Tuckman Model (Forming, Storming, Norming, Performing)adalah “Norming” atau pembentukan norma. Pada tahap ini, tim mulai menyelesaikan perbedaan mereka dan mengembangkan norma dan nilai-nilai yang diterima bersama.
Anggota tim mulai merasa lebih nyaman satu sama lain dan menemukan cara untuk bekerja secara efisien. Praktik yang bermanfaat pada tahap Norming meliputi:
● Penguatan Kerjasama
Mendorong kerjasama dan kolaborasi di antara anggota tim untuk mencapai tujuan bersama.
● Mengukuhkan Identitas Tim
Membantu anggota tim merasa sebagai bagian dari kelompok dan memperkuat identitas tim.
Pada tahap Norming, manajer harus terus mendukung pembentukan hubungan yang kuat di antara anggota tim. Lalu memastikan bahwa norma yang berkembang mendukung kinerja tim yang efektif.
4. Performing (Kinerja)
Tahap terakhir dalam model Tuckman adalah “Performing” atau kinerja. Pada tahap ini, tim telah melewati konflik awal dan telah mengembangkan norma yang solid. Mereka bekerja secara efisien bersama dan mencapai tingkat kinerja yang optimal.
Manajer pada tahap ini berperan dalam memelihara kinerja tinggi dan memastikan bahwa tim terus berkembang dan tercipta team building yang baik. Beberapa praktik yang diperlukan pada tahap Performing meliputi:
● Mendorong Innovation
Mendorong tim untuk melakukan creative thinking dan mencari cara untuk meningkatkan proses kerja mereka.
● Memberikan Umpan Balik
Memberikan umpan balik yang konstruktif dan terus-menerus untuk membantu tim tetap fokus pada tujuan mereka.
Penting bagi manajer untuk memahami bahwa pembentukan tim adalah proses yang berkelanjutan. Meskipun tim mungkin mencapai tahap Performing, mereka masih dapat kembali ke tahap sebelumnya jika terjadi perubahan dalam dinamika tim atau lingkungan kerja.
Tim Anda Sedang di Fase Mana
Teori akan terasa berguna saat Anda bisa menebak posisi tim hari ini. Tuckman Model memberi empat penanda yang mudah diamati di rapat biasa, dari cara orang bicara sampai cara keputusan diambil. Pakailah daftar berikut sebagai cermin cepat, lalu cocokkan dengan pengamatan Anda selama beberapa minggu terakhir.
- Forming: anggota masih saling menjaga perasaan, banyak yang diam, dan pertanyaannya seputar peran, target, serta siapa mengerjakan apa.
- Storming: muncul debat soal prioritas dan cara kerja, terbentuk kelompok kecil, dan keluhan lebih sering keluar lewat obrolan pribadi daripada di forum tim.
- Norming: tim mulai menyepakati aturan main sendiri, misalnya cara mengambil keputusan dan cara menyampaikan keberatan, sehingga selisih pendapat selesai tanpa harus naik ke atasan.
- Performing: beban kerja dibagi tanpa harus disuruh, umpan balik diberikan langsung ke rekan kerja, dan perhatian tim tertuju pada hasil, bukan pada siapa yang benar.
Kapan Tim Kembali ke Fase Sebelumnya
Perjalanan tim tidak selalu lurus. Kalimat penutup pada penjelasan tahap performing di atas sudah mengingatkan bahwa tim bisa turun lagi ke fase sebelumnya ketika ada anggota baru, target yang bergeser, atau cara kerja yang berubah, dan itu bagian normal dari pembentukan tim. Saat itu terjadi, tugas Anda bukan mencari siapa yang salah, melainkan mengulang hal yang paling dasar, yaitu memperjelas tujuan, peran, dan aturan main bersama. Bila Anda ingin memandu proses ini secara terstruktur, lihat alur program team development Mitologi Inspira di halaman Journey atau pertimbangkan pelatihan leadership untuk manajer agar lebih siap ketika fase tim berubah.
Sinergi tim tidak dibentuk dari satu sesi. Karena itu langkah setelah halaman ini penting: memahami fase tim dan merawat cara kerja, bukan hanya menambah satu sesi.
Pentingnya Memahami Tuckman Model (Forming, Storming, Norming, Performing) bagi Manajer
Ada beberapa manfaat yang bisa HRD, manajer atau leader perusahaan dapatkan apabila memahami model ini. Antara lain:
1. Membantu Mengelola Tim
Dengan memahami tahapan pembentukan tim, maka Anda dapat mengelola tim dengan lebih efektif. Alhasil, karyawan terbantu melewati tantangan yang muncul.
2. Mendorong Kolaborasi
Manfaat lain yang bisa manajer atau human resource dapatkan adalah mendorong kolaborasi di antara anggota tim dan mempercepat perjalanan mereka menuju kinerja yang optimal.
3. Membangun Kepemimpinan yang Efektif
Memahami model ini juga membantu manajer dalam mengembangkan keterampilan leadership yang efektif. Termasuk kemampuan untuk memfasilitasi diskusi dan mengelola konflik.
Cara Belajar Tuckman Model (Forming, Storming, Norming, Performing)
Belajar Tuckman Model yang terdiri dari tahapan forming, storming, norming, dan performing, dapat dilakukan melalui beberapa langkah yang sistematis dan terstruktur. Berikut adalah cara belajar Tuckman Model:
1. Memahami Konsep Dasar Tuckman Model
Mulailah dengan memahami konsep dasar di balik Tuckman Model. Baca literatur yang relevan, seperti buku-buku manajemen atau artikel kredibel yang menjelaskan tentang setiap tahap dalam model ini.
Pastikan Anda mengerti secara mendalam apa yang dimaksud dengan pembentukan tim, konflik dalam tim, pembentukan norma, dan kinerja optimal.
2. Studi Kasus
Studi kasus dan contoh nyata dapat membantu Anda memahami bagaimana Tuckman Model diterapkan dalam situasi dunia nyata.
Temukan studi kasus atau contoh dari organisasi atau tim yang telah berhasil menerapkan konsep-konsep dalam Tuckman Model. Analisis bagaimana setiap tahap diterapkan dan bagaimana mereka mengatasi tantangan yang muncul.
3. Diskusi dan Kelompok Studi
Bergabunglah dengan kelompok studi atau diskusi yang fokus pada topik Tuckman Model. Diskusikan konsep-konsep terkait dengan pembentukan tim, konflik, pembentukan norma, dan kinerja dalam konteks pengalaman nyata.
Diskusi dengan orang lain dapat membantu Anda mendapatkan perspektif yang beragam dan lebih mendalam tentang model ini. Apalagi jika Anda berdiskusi dengan facilitator profesional terkait model ini.
4. Pelatihan dan Workshop Tuckman Model
Ikuti pelatihan atau training karyawan yang menawarkan pembelajaran langsung tentang Tuckman Model (Forming, Storming, Norming, Performing). Pelatihan semacam ini sering kali mencakup studi kasus, simulasi, dan latihan praktis yang membantu Anda menerapkan konsep-konsep dalam situasi yang relevan.
Interaksi langsung dengan coach, trainer dan sesama peserta dapat meningkatkan pemahaman Anda tentang model ini.
Apabila Anda ingin mendapatkan pelatihan perusahaan yang praktis, interaktif dan menyenangkan, Mitologi Inspira jawabannya. Ada berbagai pelatihan dengan topik menarik mengenai leading innovation hingga leadership untuk meningkatkan manajemen karyawan.
Termasuk pelatihan karyawan dengan Tuckman Model (Forming, Storming, Norming, Performing). Meski teorinya cukup rumit, namun pelatihan tidak membosankan. Trainer memberikan pelatihan berkualitas dengan fun learning.
Hubungi kami untuk membantu Anda memfasilitasi kegiatan team building untuk teamwork perusahaan Anda melalui email di sales@mitologiinspira.com , atau whatsapp kami disini.
Untuk tim yang sedang tumbuh
Setiap tim pasti melewati fase storming. Bedanya, berapa lama tim tertahan di sana. Team Development membantu tim Anda melewatinya lebih cepat, dengan arah yang jelas.
Kenali Program Team Development Ceritakan Kebutuhan Tim AndaKonsultasi awal tidak berbayar.
Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Tuckman Model
Tuckman model itu apa?
Empat tahap yang dilalui tim ketika terbentuk dan tumbuh, yaitu Forming, Storming, Norming, dan Performing. Model ini dikembangkan Bruce Tuckman tahun 1965 untuk menjelaskan perubahan perilaku tim, dari masa perkenalan sampai kinerja optimal.
Tahap storming dalam tim itu apa?
Fase ketika perbedaan pendapat dan konflik mulai muncul karena anggota berusaha menetapkan peran dan memengaruhi keputusan. Konflik di tahap ini wajar, dan manajer justru berperan memfasilitasi diskusi terbuka agar tim menemukan cara bekerja sama.
Cara mengatasi konflik di tahap storming?
Fasilitasi diskusi terbuka dan bantu tim memisahkan pendapat pribadi dari kepentingan tim secara keseluruhan. Salah satu jalannya lewat pelatihan komunikasi efektif supaya percakapan sulit tetap berjalan sehat.
Apa bedanya forming dan norming?
Forming adalah masa perkenalan, saat anggota masih penuh semangat, sopan, dan mencari kejelasan peran serta tujuan. Norming terjadi setelah konflik dilewati, ketika tim sudah nyaman satu sama lain dan menyepakati norma serta nilai yang diterima bersama.
Apakah tim bisa kembali ke tahap sebelumnya setelah performing?
Bisa. Perubahan anggota, target, atau lingkungan kerja dapat membuat tim kembali ke fase sebelumnya meski sudah mencapai kinerja optimal, jadi pembentukan tim adalah proses yang berkelanjutan.
Di mana bisa ikut pelatihan tuckman model untuk perusahaan?
Mitologi Inspira menyelenggarakan pelatihan perusahaan dengan topik Tuckman Model yang praktis, interaktif, dan menyenangkan. Anda bisa meminta in-house training untuk tim Anda atau menghubungi kami via WhatsApp untuk membahas kebutuhan team building.
Baca juga: Diagnosa Tim, alat ukur mandiri lima lapis keselarasan tim, untuk melihat di mana tim Anda berdiri sebelum merancang program.
















